Sumber, REMBANGCYBER – Puluhan anak dari Kampung Sekararum, Desa Sekarsari, Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang, menampilkan kemampuan bermain gamelan dalam Pagelaran Karawitan Bocah bertajuk “Nunggak Semi”, Kamis (20/8/2026) malam.
Dalam pagelaran tersebut, para peserta membawakan 10 gending hasil latihan rutin yang dilakukan selama masa libur sekolah. Gending yang ditampilkan meliputi Majemuk, Ayun-ayun, Gambuh, Gugur Gunung, Srayu, Tahu Tempe, Jamu-jamu, Ricki Ricik, Lancaran 45, dan Kebo Giro.
Penggagas kegiatan, Rudy Heryanto, mengatakan pagelaran tersebut digelar sebagai upaya mengenalkan kesenian tradisional kepada anak-anak sekaligus menyiapkan regenerasi pelaku seni karawitan di desa.
“Yang ingin kita bangun sebenarnya bukan sekadar kemampuan anak-anak memainkan gamelan. Yang lebih penting adalah bagaimana mereka mulai mengenal, menyukai, kemudian merasa memiliki kesenian ini,” ujar Rudy.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup dilakukan oleh generasi tua. Kesenian tradisional perlu dikenalkan sejak dini agar tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Rudy menambahkan, kegiatan tersebut mendapat dukungan dari berbagai pihak, mulai dari komunitas SKRM Squad, Hysteria, para pelatih, orang tua hingga warga setempat. Bahkan, gamelan yang digunakan selama latihan dipinjamkan oleh warga.
“Ini bukan kegiatan satu dua orang. Ada SKRM Squad, ada Hysteria, ada para pelatih, orang tua, dan warga yang ikut membantu. Semua ini menunjukkan bahwa kebudayaan masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sekararum,” katanya.
Sebelum tampil dalam pagelaran, anak-anak menjalani latihan karawitan setiap malam selama masa libur sekolah. Kegiatan itu awalnya digagas SKRM Squad sebagai alternatif aktivitas positif bagi anak-anak yang sedang menikmati liburan.
Selama proses latihan, peserta diperkenalkan dengan berbagai instrumen gamelan dan belajar memainkan gending-gending sederhana secara bertahap. Antusiasme mereka juga mendapat dukungan dari warga dan orang tua yang secara sukarela menyediakan makanan ringan serta minuman selama latihan berlangsung.
Rudy menilai keberhasilan kegiatan tidak hanya diukur dari kemampuan anak-anak tampil di atas panggung, tetapi juga dari tumbuhnya ketertarikan mereka terhadap kesenian tradisional.
“Kalau malam ini mereka berani tampil, itu sudah menjadi pencapaian. Tetapi harapannya jangan berhenti di sini. Setelah ini mereka tetap mau latihan, tetap mau belajar, dan suatu saat ada yang benar-benar menjadi seniman,” ujarnya.
Kegiatan Nunggak Semi menjadi bagian dari upaya pelestarian tradisi seni yang telah lama hidup di Sekararum. Sebelumnya, pegiat SKRM Squad Zaenuri menyebut kesenian tradisional seperti gamelan dan ketoprak pernah berkembang kuat di tengah masyarakat serta kerap hadir dalam berbagai hajatan maupun kegiatan desa.
Upaya pelestarian budaya di Sekararum juga telah dilakukan sebelumnya. Pada 2024, tradisi Sedekah Bumi Sekararuman tercatat sebagai Kekayaan Intelektual Komunal melalui kolaborasi komunitas SKRM Squad, tokoh masyarakat dan akademisi.
Melalui pagelaran Nunggak Semi, warga berharap suara gamelan tetap terdengar di Kampung Sekararum pada masa mendatang melalui generasi muda yang mulai belajar dan mencintai kesenian tradisional.













