Lasem, Rembangcyber – Di sebuah sudut Desa Bonang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, sebuah benda kecil berbentuk gong masih disimpan dan dijaga dengan penuh hormat oleh masyarakat Lasem.
Namanya unik, “Bende Becak”. Bukan becak kendaraan roda tiga yang biasa hilir mudik di jalanan, melainkan peninggalan yang dipercaya berkaitan dengan kisah dakwah Sunan Bonang.
Bende itu tampak sederhana. Bentuknya kecil seperti gong kuno. Namun bagi masyarakat Bonang, benda tersebut bukan sekadar pusaka tua. Ada cerita panjang yang diwariskan turun-temurun, tentang dakwah, budaya, hingga nilai toleransi yang masih hidup sampai sekarang.
Konon, pada masa Kerajaan Majapahit, Raja Brawijaya V mengirim seorang utusan bernama Becak untuk menemui Sunan Bonang. Sang utusan membawa surat balasan atas ajakan memeluk agama Islam. Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, Raja Brawijaya menolak ajakan tersebut.
Setelah menyerahkan surat, Becak tidak langsung kembali. Ia justru menyanyikan tembang-tembang di depan tempat Sunan Bonang mengajar para santri. Suara tembang itu terdengar hingga ke dalam area pengajian.
Sunan Bonang kemudian bertanya kepada para santri, suara apa yang terdengar di luar. Para santri menjawab bahwa itu suara Becak. Namun Sunan Bonang disebut menjawab bahwa yang terdengar bukan suara manusia, melainkan suara “bende” atau gong kecil.
Ketika para santri keluar untuk memeriksa, sosok Becak dikisahkan telah menghilang. Yang tertinggal hanyalah sebuah gong kecil yang kemudian dikenal masyarakat sebagai Bende Becak.
Cerita itu terus hidup dari generasi ke generasi. Setiap Hari Raya Iduladha, warga menggelar tradisi jamasan atau pencucian Bende Becak. Tradisi tahunan ini selalu ramai didatangi masyarakat, tidak hanya dari Rembang, tetapi juga dari berbagai daerah lain.
Sejak pagi, warga biasanya sudah berkumpul di sekitar lokasi penyimpanan pusaka. Sebagian datang karena ingin menyaksikan tradisi warisan leluhur, sebagian lainnya berharap mendapatkan air bekas jamasan yang dipercaya membawa keberkahan.
Bagi masyarakat setempat, tradisi tersebut bukan semata soal mitos. Ada rasa kebersamaan yang tumbuh di dalamnya. Anak-anak kecil berlarian di sekitar lokasi, orang tua bercengkerama, sementara para tokoh desa menjaga agar tradisi tetap berlangsung dengan khidmat.
Di tengah perkembangan zaman, kisah Bende Becak menjadi pengingat bahwa dakwah dahulu tidak selalu dilakukan dengan kekerasan ataupun paksaan. Ada pendekatan budaya, seni, dan cerita yang membuat ajaran agama lebih mudah diterima masyarakat.
Tradisi itu juga menjadi bagian dari identitas warga Bonang. Mereka menjaga bukan hanya bendanya, tetapi juga nilai sejarah dan penghormatan terhadap para leluhur yang pernah menyebarkan Islam dengan cara damai.
Tradisi penjamasan Bende Becak merupakan simbol budaya dan syiar agama yang harus tetap dilestarikan.
Masyarakat Bonang dengan kearifan lokalnya, terus menjaga tradisi tersebut sebagai bagian dari kekayaan budaya di Kabupaten Rembang, dengan tetap menempatkan keyakinan bahwa segala sesuatu kembali kepada kuasa Allah SWT. Aba/Red
Diolah dari berbagai sumber













