LASEM, REMBANGCYBER – Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenkraf)/Badan Ekonomi Kreatif berkomitmen terus mendampingi pelaku seni rupa di Kabupaten Rembang untuk meningkatkan nilai karya sekaligus membuka peluang komersialisasi agar produk seni rupa lokal mampu menjangkau pasar lebih luas.
Komitmen tersebut ditegaskan Kepala Subdirektorat Pemasaran dan Komersialisasi Seni Pertunjukan dan Seni Rupa Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, Lambang Prabowo, dalam Workshop Seni Rupa untuk Aktivasi Ruang Kreatif di Rumah Merah Lasem, Rembang, Kamis (5/11/2026).
Lambang mengatakan, aktivasi ruang kreatif menjadi salah satu langkah untuk menggali potensi seniman daerah.

“Tidak hanya melalui pelatihan dan peningkatan kapasitas, tetapi juga pendampingan dalam mengembangkan nilai produk serta strategi pemasaran karya seni,” ucapnya.
Menurutnya, potensi seni rupa di Rembang perlu didukung dengan ekosistem kreatif yang produktif.
“Karena itu, Kementerian Ekonomi Kreatif berencana melanjutkan pendampingan melalui kolaborasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rembang,” imbuhnya.
Workshop tersebut diikuti sekitar 70 peserta dari kalangan pegiat seni rupa di Rembang dan Lasem. Mereka mendapatkan materi dari sejumlah praktisi seni dan pengelola ruang kreatif.

Tiga narasumber dihadirkan dalam kegiatan tersebut. Mereka adalah Abdul Chamim dari Gentong Miring Art Gallery, Agni Malagina dari Lasem Heritage Foundation, serta Rato Tanggela dari Born Useful Studio Jakarta.
Abdul Chamim membawakan materi bertajuk Dari Studio ke Galeri: Membaca Peluang Pasar dan Komersialisasi Seni Rupa Rembang. Materi ini membahas ekosistem galeri lokal, standar kurasi, penilaian karya, hingga strategi meningkatkan daya saing karya seni rupa.
Sementara Agni Malagina mengangkat tema Sinergi Ruang Kreatif: Strategi Kolaborasi dan Aktivasi Ekosistem Seni. Ia membahas pentingnya kolaborasi lintas komunitas serta pengalaman mengembangkan ekosistem seni, termasuk praktik aktivasi kreatif di Labuan Bajo.
Adapun Rato Tanggela menyampaikan materi Merajut Tradisi, Memantik Imajinasi: Inovasi Penciptaan Karya Seni Rupa. Pembahasan mencakup pemanfaatan tradisi dan kearifan lokal sebagai sumber inspirasi, eksplorasi imajinasi, hingga praktik pembuatan karya melalui kolase dan prototipe.
Salah seorang peserta, Rosyid Ndoyek dari Komunitas Suket Teki, Sedan, Rembang, mengaku senang bisa mengikuti kegiatan tersebut.
“Sangat senang dengan workshop ini. Ini menjadikan kami lebih termotivasi untuk menciptakan karya seni yang lebih baik, lebih berbobot dan fenomenal,” ucapnya.
Dia berharap kegiatan serupa tidak berhenti sebatas workshop. Dinas terkait terutama Kementerian Ekonomi Kreatif, diharapkan mengambil langkah nyata untuk mendampingi dan mengembangkan potensi para seniman di Rembang. Am/Red











