"Anjloknya harga garam rakyat dipicu impor garam yang dilakukan oleh pemerintah. Ini sangat merugikan bagi petani garam," ucapnya, Rabu (22/7/2020).

REMBANGCYBER.NET, KALIORI - Petani garam di Kabupaten Rembang mengeluhkan harga garam rakyat yang terjun bebas. Hal ini mengakibatkan petani merugi.

Tak ingin menanggung kerugian yang lebih besar,  sebagian petani enggan mengolah tambaknya.
Seorang petani garam asal Desa Dresi Kulon Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, Suhendra mengatakan, harga garam di tingkat petani saat ini turun drastis di kisaran Rp170 hingga Rp200 per kilogram.

"Anjloknya harga garam rakyat dipicu impor garam yang dilakukan oleh pemerintah. Ini sangat merugikan bagi petani garam," ucapnya, Rabu (22/7/2020).

Hendro menambahkan, karena rugi, banyak petani garam lebih memilih banting setir menggeluti sektor pekerjaan lain yang dianggap lebih menghasilkan seperti kerja menjadi buruh bangunan atau melaut mencari ikan.

Diakuinya,  harga garam di pasaran selama ini memang sangat fluktuatif. Namun kali ini, harga garam benar-benar membuat petani meradang.

"Tahun lalu harga garam bisa mencapai Rp1000 hingga Rp1500 per kilogram. Namun saat ini, harga garam jeblok. Jangankan meraih untung, untuk menutup biaya produksi saja petani harus nombok," imbuhnya.

Hingga pertengahan bulan Juli ini, petani garam di Rembang belum melakukan aktifitas mengolah tambak. Padahal biasanya bulan Juli seperti ini ramai-ramainya petani tambak memproduksi garam.

Sebenarnya cuaca saat ini sangat mendukung untuk proses pembuatan garam. Namun karena harga garam yang tak lagi asin, petani garam di Rembang enggan mengolah lahan tambak mereka.

Petani garam di Rembang berharap pemerintah mengkaji ulang kebijakan impor garam untuk melindungi nasib petani garam yang tercekik di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini. (Aba)

Kirim Komentar: